Archive for Januari, 2011

Antara Qur’an dengan Laptop part 1

Pertama kali aku menginjakkan kaki di kota pusatnya priangan ini,yang terlintas dibenaku hanyalah kesejukan udaranya, orang-orangnya yang modis sebagaimana orang-orang modis di kota mode lainnya di belahan dunia  yang lain. Kota modenya negeri seribu pulau ini pun, memancarkan  keindahan yang tak kalah menarik , mulai dari panorama alamnya yang memukau, hingga insannya yang memikat hati setiap orang yang melihatnya.Termasuk juga aku, karena tak ku pungkiri  kala itu sebagian lintasan hatiku berkata demikian.

Ku turunkan kakiku  dari sebuah angkutan yang biasa digunakan untuk memasuki kota ini. Terasa  beda memang dengan udara di kota ku yang sangat pengap akibat terlalu banyak gedung yang memproduksi asap hitam pekat. Ketika matahari sepenggalahan aku mulai menyusuri kota yang memiliki jargon bermartabat, dan ternyata jargon ini adalah jargon yang dibuat oleh seorang kyai yang kini menjadi guru ku. Hangat dan sejuk adalah yang kurasakan walaupun banyak asap hitam yang berseliweran di depanku hasil buangan dari si roda dua dan si roda empat. Perjalanan yang diiringi lantunan musik khas bis kota dan perniagaan yang tak henti-hentinya di angkutan ini. Hingga aku akhirnya sampai di tempat yang telah ku bayangkan jauh-jauh hari sebelumnya. Walaupun ternyata tempat ini bukan yang terbaik untukku, hingga akhirnya allah memberikan takdir lain padaku.

Setelah sebulan semenjak kedatangan ku yang pertama, kedatanganku yang kedua ini memang memiliki tujuan yang berbeda, karena kali ini aku mencari tempat bernaung baru. Setelah sebelumnya aku bersama lelaki super yang paling aku cintai, singgah untuk menetapkan tempat menuntut ilmu yang baru. Aku berkeliling, mulai dari waktu duha hingga muadzin mengumandangkan azan saat matahari berada tepat di atas kepala ku, dengan tujuan kedua ku yaitu mencari tempat untuk memperbaiki dan menebalkan iman. Hingga tiba waktunya aku menemukan sebuah pesantren yang pernah sering tampil di televisi, dengan kyainya yang mengajarkan ketauhidan kepada para jamaahnya.

Terhitung kurang lebih dua minggu setelah itu, aku kembali untuk mencoba menyesuaikan dengan kehidupan ku yang baru. Orientasi dengan berbagai kedisplinan selama dua minggu membuat hidupku berbeda dengan sebelumnya. Hari-hari di pesantren membuat ku sedikit banyak merubah tingkah laku yang selama ini jauh dari yang di contohkan sang perubah zaman, walau masih banyak sikap yang harus ku perbaiki, namun aku merasa lebih baik disini. Jika ku ingat dengan  masa saat ku bersama para sahabat baruku, di orientasi sebelumnya  banyak cerita yang sangat indah untuk di kenang. Saat menelusuri lumpur, saat makan bersama dengan saling suap menyuapi, saat diguyur air bersama, saat berjalan dengan ditutup mata, saat merangkak bersama, saat tidur di hutan bersama, saat push up bersama, saat di bentak-bentak bersama, dan masih banyak saat-saat indah yang pernah ku lalui bersama sahabat baru ku. dan kisah-kisah itu menjadi titik awal ku bergabung dengan  PPM4 (Program Pesantren Mahasiswa angkatan 4).

Iklan